Rabu, 25 November 2020

[LAPORAN PRAKTIKUM KPKT - ACARA 5 - PROBLEMATIKA KESUBURAN TANAH DI SEKITAR TEMPAT TINGGAL]

Struktur tanah gumpal membulat


    Praktikum Kesuburan, Pemupukan, dan Kesehatan Tanah Acara 5 mengenai Problematika Tanah di Sekitar Tempat Tinggal, telah dilaksanakan pada hari Minggu, 25 Oktober 2020. Praktikum menggunakan metode wawancara di daerah Desa Kiringan, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada pukul 16.00 WIB. Tempat ini berada pada kondisi fisiografi dataran dan topografi datar. Kabupaten Boyolali, tepatnya pada tempat yang saya amati berada pada ketinggian 944 mdpl. Daerah ini memiliki kedalaman jeluk tanah setinggi 5 meter. Narasumber yang saya wawancarai adalah seorang ibu rumah tangga bernama Ibu Yuni (44 tahun). Beliau merupakan ibu rumah tangga yang memiliki beberapa permasalahan di pekarangan rumahnya.

    Ibu Yuni memiliki sepetak pekarangan di depan rumah. Pekarangan tersebut sekitar 1 meter x 1 meter yang ditumbuhi oleh satu tanaman utama berupa tanaman durian (Durio zibethinus) yang sudah berumur kurang lebih 12 tahun. Selain tanaman utama terdapat beberapa tanaman bunga di sekitarnya. Ibu Yuni juga menanam tanaman stroberi dan tanaman sawi, tetapi peletakannya pada pot dari barang bekas. Tanaman durian tersebut sudah mulai dapat dipanen sekitar umur 6 tahun. Selama masa hidupnya tanaman durian tersebut memiliki produktivitas yang baik. Tanaman durian ini biasanya mulai berbuah saat memasuki musim hujan.

Penampakan pekarangan

    Tanaman durian (Durio zibethinus) adalah salah satu jenis tanaman tropis asli Indonesia (Rukmana, 2001). Lingkungan tumbuh tentunya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan serta produktivitas tanaman durian ini. Tanaman durian ideal ditanam pada ketinggian 200-500 mdpl, pada ketinggian 900 mdpl pohon durian sama sekali tidak dapat berbuah karena tidak memiliki persyaratan tumbuh yang sesuai (Rukmana, 1996). Kisaran curah hujan yang ideal untuk tanaman durian ini sekitar 1.500-2.500 mm per tahun. Lokasi kebun harus terbuka dengan topografi datar atau agak miring dibawah 35 derajat. Tanaman durian membutuhkan tanaman gembur dan banyak mengandung bahan organik. Selain itu drainase air juga harus baik, pada tanah yang memiliki drainase buruk akan menyebabkan akar tanaman menjadi busuk. Pada tanaman durian dapat tumbuh ideal pada suhu udara berkisar antara 27°C-32°C dan kelembaban sekitar 75%-80%. Tanaman durian lebih senang terhadap sinar matahari penuh sehingga lebih baik ditanam pada daerah terbuka dengan intensitas cahaya 60%-80% (Setiadi, 1999).   

    Berdasarkan teori tersebut tidak sesuai dengan fakta yang ada, bahwa produktivitas tanaman durian yang berada pada ketinggian 944 mdpl memiliki produktivitas yang baik. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan panen setiap tahun dapat mencapai 20 buah dalam satu pohon. Namun pernah dalam satu periode, hasil tanaman yang diperoleh rasanya tidak manis. Berdasarkan wawancara hal tersebut dapat dikarenakan curah hujan yang sangat tinggi sehingga mengakibatkan rasa durian menjadi hambar tak berasa manis. Selain masalah produktivitas yang dialami, permasalahan pada tanah juga dialami.

    Permasalahan pada tanah yang utama adalah terjadi kompaksi atau pemadatan tanah. Kompaksi tanah ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan drainase yang terhambat. Tanah yang mengalami kompaksi memiliki lapisan bawah yang padat, serta tidak mampu mensuplai unsur hara secara optimal bagi tanaman (Akbar et al., 2012). Solusi yang saya berikan kepada narasumber yaitu dengan menambahkan bahan organik secara berkala, bisa dengan menggunakan kompos atau yang lainnya. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikatakan oleh Ali et al. (2015) bahwa kegunaan kompos yaitu untuk menggemburkan tanah, mempertinggi daya serap dan simpan air, sehingga mampu membuat akar tumbuh dan berkembang secara optimal. Kompaksi tanah yang dialami oleh narasumber mungkin dikarenakan usia tanah yang sudah selama kurang lebih 12 tahun tidak diolah, padahal sudah menggunakan metode pengolahan tanah berupa minimum tillage. Sedangkan keuntungan dari metode pengolahan tanah dengan cara tersebut yaitu salah satunya mampu meningkatkan kekencangan dan meminimalkan kompaksi pemadatan tanah (Yasnolob et al., 2018). Berdasarkan hal tersebut maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa tanah agar tetap dapat subur maka harus diolah agar menjaga drainase tanah dan tanah tetap gembur.

Tanah ditambahkan kompos
 

Pustaka:

Akbar, Y., Darusman, dan S.A. Ali. 2012. Pemadatan tanah dan hasil kedelai (Glycine max L. Merill) akibat pemupukan urea dan tekanan ban traktor. Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan. 1: 94-101.

Ali, M., M.A. Khoiri, dan K. Rachim. 2015. Pertumbuhan bibit kopi robusta (Coffea canephora Pierre) dengan pemberian beberapa jenis kompos. Jurnal Agrotek Trop. 4: 1-7.

Rukmana, R. 2001. Durian, Budidaya dan Pasca Panen. Kanisius. Yogyakarta.

Rukmana, R. 1996. Durian, Budidaya, dan Pasca Panen. Kanisius. Jakarta.

Setiadi. 1999. Bertanam Durian. Penebar Swadaya. Jakarta.

Yasnolob, I.O., V.M. Pysarenko, T.O. Chayka, O.O. Gorb, O.S. Pestsova-Svitalka, Zh.A. Kononenko, and O.M. Pomaz. 2018. Ecologization of tillage methods with the aim of soil fertility improvement. Ukrainan Journal of Ecology. 8: 280-286.


#19/439261/PN/15923_Ayu Wulandari_A2#



Foto bersama narasumber

Selasa, 24 November 2020

[LAPORAN PRAKTIKUM KPKT - ACARA 3 - MEMBUAT KOMPOS]

    


    Kompos merupakan salah satu pupuk organik yang saat ini banyak dikembangkan. Kompos adalah pupuk alami yang terbuat dari bahan-bahan hijauan dengan bahan organik lain yang disengaja untuk mempercepat proses pengomposan (Wied, 2004). Pengomposan limbah organik didefinisikan sebagai proses dekomposisi aerobik mikroba yang terkontrol (Inbar et al., 1993). Produk utama dari pengomposan secara aerobik adalah CO2, air, ion mineral, dan bahan organik yang distabilkan atau yang sering disebut dengan humus. Kompos dimanfaatkan untuk mengembalikan dan mempercepat kesuburan tanah (Sulistyorini, 2005).

    Pembuatan kompos dilakukan di Desa Kiringan, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada hari Rabu, 23 September 2020. Pembuatan kompos memerlukan bahan dan alat yaitu kotak kayu atau bisa diganti dengan ember, sekop, plastik, sampah bahan organik (saya menggunakan seresah daun kering), aktivator berupa EM4, bekatul atau dedak, air, dan gula/molase untuk sumber makanan mikroorganisme yang akan menjadi dekomposer pada proses pengomposan. Metode yang saya pilih adalah metode aerob. Berikut adalah cara kerjanya:

a. Drum yang telah dilubangi disiapkan.

b. Aktivator berupa EM4 dilarutkan dalam air dan gula dengan dosis 1:50:1.

c. Limbah organik (seresah daun) dicacah hingga berukuran <2 cm dan dicampur dengan bekatul secukupnya.

d. Bahan diaduk hingga merata dan ditambahkan larutan aktivator yang sudah dibuat sebelumnya.

e. Drum ditutup dengan plastik.

f. Setelah 4 hari, kompos diaduk agar tetap menjaga suhu di wadah tidak terlalu panas.

g. Kompos dicek setelah 7 hari.

h. Setelah 21 hari dicek kembali dan apabila sudah hancur dan tidak menyengat maka kompos sudah jadi.

i. Apabila warna dan bau kompos sudah sesuai maka kompos siap digunakan.

    Saat ini, kompos yang dibuat seja tanggal 23 September 2020 sudah jadi dan sudah diaplikasikan. Kompos memiliki warna yang cerah karena menggunakan metode aerob. Pada bau kompos, yang awalnya merupakan bau menyengat karena bahannya dari seresah daun jambu, sekarang sudah tidak menyengat dan baunya menyerupai bau tanah. Kompos yang saya aplikasikan pada tanggal 17 November 2020, saat ini terlihat tanaman yang tumbuh diatasnya tidak mengalami masalah dan tetap dapat tumbuh dengan baik.

 

Pustaka:

Inbar, Y., Y. Hadar, and Y. Chen. 1993. Recycling of cattle mature: the composting process and characterization of maturity. Journal Environment Quality. 22: 857-863.

Sulistyorini, L. 2005. Pengelolaan sampah dengan cara menjadikannya kompos. Jurnal Kesehatan Lingkungan. 2: 77-84.

Wied, H.A. 2004. Memproses Sampah. Penebar Swadaya. Jakarta.

 

#19/439261/PN/15923_Ayu Wulandari_A2#

[LAPORAN PRAKTIKUM KPKT - ACARA 2 - MENGENAL PUPUK]


   

 Praktikum KPKT acara 2 mengenal pupuk dilakukan dengan metode wawancara petani. Wawancara petani dilakukan pada hari Minggu, 25 Oktober 2020 di sawah yang terletak di Desa Kiringan, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Sawah ini berada tepat di samping jalan raya. Narasumber yang saya wawancarai adalah Bapak Hadi Markom. Beliau merupakan petani yang menggarap lahan seluas 550 m2 dengan tiga komoditas utama, yang meliputi padi (Oryza sativa L.), jagung (Zea mays L.), dan kacang kedelai (Glycine max L.). 

    Tanaman yang ditanam adalah padi, jagung, dan kacang kedelai dimana merupakan golongan tanaman pangan. Ketiga tanaman ini memiliki luasan lahan yang berbeda-beda. Mulai dari yang paling luas yaitu lahan padi, kemudian jagung, dan yang terakhir adalah kacang kedelai. Kacang kedelai merupakan komoditas cadangan, terkadang ditanam atau terkadang pula digantikan dengan tanaman lain seperti kacang tanah (Arachis hypogaea L.).

    Berdasarkan wawancara kondisi tanah di lahan garapan Bapak Hadi Markom memiliki tingkat kesuburan yang baik. Hal tersebut bisa dikarenakan letak sawah berada di kaki gunung merapi. Tanah subur di Indonesia merupakan tanah yang berada di lingkungan gunung berapi (Sukarman & Dariah, 2014). Oleh karena tanah yang sudah memiliki kesuburan yang baik tersebut, beliau hanya menggunakan satu macam pupuk saja yaitu pupuk urea. Pengaplikasian pupuk urea ini hanya dengan cara disebar disekitar tanaman. Pengaplikasian pupuk urea biasanya dilakukan secara dua kali, yaitu pada umur 15 hari dan umur 45 hari. Dosis yang diberikan sekitar 2 kuintal per hektar. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikatakan oleh Siallagan et al. (2014), bahwa dosis pemumpukan urea pada padi yang dianjurkan adalah sebanyak 250kg/ha.

    Pupuk urea merupakan pupuk yang memilki kandungan unsur Nitrogen sebesar 45%. Pupuk urea memiliki peran dalam pembentukan dan pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman yang meliputi pembentukan klorofil, membentuk lemak serta protein, dan mampu mempercepat pertumbuhan daun, batang serta akar (Marsono, 2005 cit. Saputri et al., 2018). Pupuk urea ini memiliki kelebihan pada penggunaanya dapat disesuaikan dengan kebutuhan karena hanya mengandung N saja, sedangkan kelemahannya adalah mampu menurunkan pH tanah (Parnata, 2010 cit. Saputri et al., 2018). Selain itu untuk memenuhi kebutuhan N pada tanaman, penggunaan urea ini efektif karena cepat bereaksi dalam larutan tanah, mudah didapat di pasaran serta harganya relatif murah (Suriatna, 1992 cit. Sitorus et al., 2014).

 

Pustaka:

Saputri, L., dan E.D. Hastuti, dan R. Budihastuti. 2018. Respon pemberian pupuk urea dan pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan kandungan minyak atsiri tanaman jahe merah (Zingiber officinale L. Rosc var. Rubrum). Jurnal Biologi. 7: 1-7.

Siallagan, J.O., D. Chalil, dan M. Jufri. 2014. Analisis efisiensi penggunaan pupuk bersubsidi pada tanaman padi sawah. Journal On Social Economic Of Agriculture and Agribusiness. 2: 1-10.

Sitorus, U.K.P., B. Siagian, dan N. Rahmawati. 2014. Respons pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.) terhadap pemberian abu boiler dan pupuk urea pada media pembibitan. Jurnal Online Agroekoteknologi. 2: 1021-1029.

Sukarman, dan A. Dariah. 2014. Tanah Andosol di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

 

#19/439261/PN/15923_Ayu Wulandari_A2#

[LAPORAN PRAKTIKUM KPKT - ACARA I - UJI KESUBURAN TANAH]

     Uji kesuburan tanah dilakukan secara mandiri di Dusun Suyudan, Desa Kiringan, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali. Uji kesuburan tanah dilakukan pada hari Selasa, 22 September 2020. Uji kesuburan tanah dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti uji fisika tanah, uji kesuburan dengan menanam tanaman dengan beberapa perlakuan, dan juga dapat dilakukan dengan wawancara petani di sekitar. Pada acara pertama tentang uji kesuburan tanah ini saya memilih untuk melakukan uji fisika tanah. Uji fisika tanah dilakukan untuk mengetahui struktur, tekstur, konsistensi, dan juga warna tanah.

    Alat dan bahan yang diperlukan meliputi tanah yang akan diuji, air, cangkul, cetok, soil colour munsell, dan alat tulis.

Cara kerja:

1. Profil tanah dibuat berukuran 30cm×30cm×30cm.

2. Agregat tanah diambil untuk diamati struktur tanahnya.

3. Agregat tanah diuji konsistensinya dengan cara ditekan menggunakan ibu jari dan telunjuk, apabila belum hancur maka uji konsistesi kering ini dapat dilakukan dengan cara ditekan menggunakan ibu jari dan telapak tangan.

4. Konsistensi basah diuji dengan cara dibuat pasta dan diuji kelekatannya dengan cara ditekan diantara ibu jari dan telunjuk, untuk plastisitasnya dengan cara dibuat pita.

5. Tekstur tanah diuji dengan cara tanah dibuat adonan dan dibentuk bola, kemudian dibentuk pita dan seterusnya sesuai petunjuk pada buku praktikum.

6. Warna tanah diuji dengan soil colour munssel yang dapat didownload di google dalam bentuk pdf, kemudian tanah yang ada dapat disesuaikan dengan warna yang ada di buku tersebut.

7. Hasil yang didapatkan dicatat.

    Uji fisika tanah yang dilakukan di pekarangan rumah yang biasanya digunakan untuk menanam singkong. Pada uji struktur tanah mendapatkan hasil berupa granular. Tanah di daerah Boyolali kemungkinan berjenis andisol karena letaknya yang berada di kaki Gunung Merapi tepatnya sebelah timur. Hasil tersebut sama dengan penelitian yang dilakukan Djaenudin (2004), bahwa tanah andisol memiliki struktur tanah yang berbutir atau granular. Selanjutnya hasil pengamatan konsistensi tanah didapatkan hasil pada kondisi lembab berupa lekat dan agak plastis. Pada kondisi kering, konsistensi tanah cenderung agak keras. Untuk uji tekstur tanah didapatkan tekstur geluh. Geluh merupakan tekstur tanah yang memiliki fraksi-fraksi tanah seimbang. Menurut Margolang et al. (2015), tekstur tanah yang paling ideal adalah tekstur tanah yang memiliki fraksi komposisi yang seimbang. Selajutnya pada pengujian warna tanah didapatkan hasil 7.5 YR 6/4, light yellowish brown. Pada hasil warna yang didapatkan warna tanah cenderung terang. Tanah yang subur biasanya berwarna gelap karena memiliki banyak kandungan bahan organik.

    Namun indikator subur tidak dapat dinilai melalui uji kualitatif saja, banyak indikator lain yang mempengaruhi kesuburan. Berdasarkan pengujian fisika tanah dapat disimpulkan bahwa tanah yang saya amati dapat dikatakan subur karena memilki struktur, tekstur, serta konsistensi yang menggambarkan bahwa tanah cenderung gembur yang artinya adalah tanah tergolong subur dan memiliki aerasi serta draenase yang baik. Selain itu letak tanah yang diuji merupakan tanah di sekitar Gunung Merapi, yang mana tanah subur di Indonesia merupakan tanah yang berada di lingkungan gunung berapi (Sukarman & Dariah, 2014).

 

Pustaka:

Djaenudin, D. 2004. Beberapa sifat spesifik andisol untuk pembeda klasifikasi pada tingkat seri: studi kasus di daerah Cikajang dan Cikole, Jawa Barat. Jurnal Tanah dan Lingkungan. 6: 14-21.

Margolang, R.D., Jamilah, dan M. Sembiring. 2015. Karakteristik beberapa sifat fisik, kimia, dan biologi tanah pada sistem pertanian organik. Jurnal Online Agroekoteaknologi. 3: 717-723.

Sukarman, dan A. Dariah. 2014. Tanah Andosol di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

 

#19/439261/PN/15923_Ayu Wulandari_A2#