![]() |
| Struktur tanah gumpal membulat |
Ibu Yuni memiliki sepetak pekarangan di depan rumah. Pekarangan tersebut sekitar 1 meter x 1 meter yang ditumbuhi oleh satu tanaman utama berupa tanaman durian (Durio zibethinus) yang sudah berumur kurang lebih 12 tahun. Selain tanaman utama terdapat beberapa tanaman bunga di sekitarnya. Ibu Yuni juga menanam tanaman stroberi dan tanaman sawi, tetapi peletakannya pada pot dari barang bekas. Tanaman durian tersebut sudah mulai dapat dipanen sekitar umur 6 tahun. Selama masa hidupnya tanaman durian tersebut memiliki produktivitas yang baik. Tanaman durian ini biasanya mulai berbuah saat memasuki musim hujan.
![]() |
| Penampakan pekarangan |
Tanaman durian (Durio zibethinus) adalah salah satu jenis tanaman tropis asli Indonesia (Rukmana, 2001). Lingkungan tumbuh tentunya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan serta produktivitas tanaman durian ini. Tanaman durian ideal ditanam pada ketinggian 200-500 mdpl, pada ketinggian 900 mdpl pohon durian sama sekali tidak dapat berbuah karena tidak memiliki persyaratan tumbuh yang sesuai (Rukmana, 1996). Kisaran curah hujan yang ideal untuk tanaman durian ini sekitar 1.500-2.500 mm per tahun. Lokasi kebun harus terbuka dengan topografi datar atau agak miring dibawah 35 derajat. Tanaman durian membutuhkan tanaman gembur dan banyak mengandung bahan organik. Selain itu drainase air juga harus baik, pada tanah yang memiliki drainase buruk akan menyebabkan akar tanaman menjadi busuk. Pada tanaman durian dapat tumbuh ideal pada suhu udara berkisar antara 27°C-32°C dan kelembaban sekitar 75%-80%. Tanaman durian lebih senang terhadap sinar matahari penuh sehingga lebih baik ditanam pada daerah terbuka dengan intensitas cahaya 60%-80% (Setiadi, 1999).
Berdasarkan teori tersebut tidak sesuai dengan fakta yang ada, bahwa produktivitas tanaman durian yang berada pada ketinggian 944 mdpl memiliki produktivitas yang baik. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan panen setiap tahun dapat mencapai 20 buah dalam satu pohon. Namun pernah dalam satu periode, hasil tanaman yang diperoleh rasanya tidak manis. Berdasarkan wawancara hal tersebut dapat dikarenakan curah hujan yang sangat tinggi sehingga mengakibatkan rasa durian menjadi hambar tak berasa manis. Selain masalah produktivitas yang dialami, permasalahan pada tanah juga dialami.
Permasalahan pada tanah yang utama adalah terjadi kompaksi atau pemadatan tanah. Kompaksi tanah ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan drainase yang terhambat. Tanah yang mengalami kompaksi memiliki lapisan bawah yang padat, serta tidak mampu mensuplai unsur hara secara optimal bagi tanaman (Akbar et al., 2012). Solusi yang saya berikan kepada narasumber yaitu dengan menambahkan bahan organik secara berkala, bisa dengan menggunakan kompos atau yang lainnya. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikatakan oleh Ali et al. (2015) bahwa kegunaan kompos yaitu untuk menggemburkan tanah, mempertinggi daya serap dan simpan air, sehingga mampu membuat akar tumbuh dan berkembang secara optimal. Kompaksi tanah yang dialami oleh narasumber mungkin dikarenakan usia tanah yang sudah selama kurang lebih 12 tahun tidak diolah, padahal sudah menggunakan metode pengolahan tanah berupa minimum tillage. Sedangkan keuntungan dari metode pengolahan tanah dengan cara tersebut yaitu salah satunya mampu meningkatkan kekencangan dan meminimalkan kompaksi pemadatan tanah (Yasnolob et al., 2018). Berdasarkan hal tersebut maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa tanah agar tetap dapat subur maka harus diolah agar menjaga drainase tanah dan tanah tetap gembur.
![]() |
| Tanah ditambahkan kompos |
Pustaka:
Akbar, Y., Darusman, dan S.A. Ali. 2012. Pemadatan tanah dan hasil kedelai (Glycine max L. Merill) akibat pemupukan urea dan tekanan ban traktor. Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan. 1: 94-101.
Ali, M., M.A. Khoiri, dan K. Rachim. 2015. Pertumbuhan bibit kopi robusta (Coffea canephora Pierre) dengan pemberian beberapa jenis kompos. Jurnal Agrotek Trop. 4: 1-7.
Rukmana, R. 2001. Durian, Budidaya dan Pasca Panen. Kanisius. Yogyakarta.
Rukmana, R. 1996. Durian, Budidaya, dan Pasca Panen. Kanisius. Jakarta.
Setiadi. 1999. Bertanam Durian. Penebar Swadaya. Jakarta.
Yasnolob, I.O., V.M. Pysarenko, T.O. Chayka, O.O. Gorb, O.S. Pestsova-Svitalka, Zh.A. Kononenko, and O.M. Pomaz. 2018. Ecologization of tillage methods with the aim of soil fertility improvement. Ukrainan Journal of Ecology. 8: 280-286.
#19/439261/PN/15923_Ayu Wulandari_A2#
![]() |
| Foto bersama narasumber |









