Kompos merupakan salah satu pupuk organik yang saat ini banyak dikembangkan. Kompos adalah pupuk alami yang terbuat dari bahan-bahan hijauan dengan bahan organik lain yang disengaja untuk mempercepat proses pengomposan (Wied, 2004). Pengomposan limbah organik didefinisikan sebagai proses dekomposisi aerobik mikroba yang terkontrol (Inbar et al., 1993). Produk utama dari pengomposan secara aerobik adalah CO2, air, ion mineral, dan bahan organik yang distabilkan atau yang sering disebut dengan humus. Kompos dimanfaatkan untuk mengembalikan dan mempercepat kesuburan tanah (Sulistyorini, 2005).
Pembuatan kompos dilakukan di Desa Kiringan, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada hari Rabu, 23 September 2020. Pembuatan kompos memerlukan bahan dan alat yaitu kotak kayu atau bisa diganti dengan ember, sekop, plastik, sampah bahan organik (saya menggunakan seresah daun kering), aktivator berupa EM4, bekatul atau dedak, air, dan gula/molase untuk sumber makanan mikroorganisme yang akan menjadi dekomposer pada proses pengomposan. Metode yang saya pilih adalah metode aerob. Berikut adalah cara kerjanya:
a. Drum yang telah dilubangi disiapkan.
b. Aktivator berupa EM4 dilarutkan dalam air dan gula dengan dosis 1:50:1.
c. Limbah organik (seresah daun) dicacah hingga berukuran <2 cm dan dicampur dengan bekatul secukupnya.
d. Bahan diaduk hingga merata dan ditambahkan larutan aktivator yang sudah dibuat sebelumnya.
e. Drum ditutup dengan plastik.
f. Setelah 4 hari, kompos diaduk agar tetap menjaga suhu di wadah tidak terlalu panas.
g. Kompos dicek setelah 7 hari.
h. Setelah 21 hari dicek kembali dan apabila sudah hancur dan tidak menyengat maka kompos sudah jadi.
i. Apabila warna dan bau kompos sudah sesuai maka kompos siap digunakan.
Saat ini, kompos yang dibuat seja tanggal 23 September 2020 sudah jadi dan sudah diaplikasikan. Kompos memiliki warna yang cerah karena menggunakan metode aerob. Pada bau kompos, yang awalnya merupakan bau menyengat karena bahannya dari seresah daun jambu, sekarang sudah tidak menyengat dan baunya menyerupai bau tanah. Kompos yang saya aplikasikan pada tanggal 17 November 2020, saat ini terlihat tanaman yang tumbuh diatasnya tidak mengalami masalah dan tetap dapat tumbuh dengan baik.
Pustaka:
Inbar, Y., Y. Hadar, and Y. Chen. 1993. Recycling of cattle mature: the composting process and characterization of maturity. Journal Environment Quality. 22: 857-863.
Sulistyorini, L. 2005. Pengelolaan sampah dengan cara menjadikannya kompos. Jurnal Kesehatan Lingkungan. 2: 77-84.
Wied, H.A. 2004. Memproses Sampah. Penebar Swadaya. Jakarta.
#19/439261/PN/15923_Ayu Wulandari_A2#



Tidak ada komentar:
Posting Komentar