Praktikum KPKT acara 2 mengenal pupuk dilakukan dengan metode wawancara petani. Wawancara petani dilakukan pada hari Minggu, 25 Oktober 2020 di sawah yang terletak di Desa Kiringan, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Sawah ini berada tepat di samping jalan raya. Narasumber yang saya wawancarai adalah Bapak Hadi Markom. Beliau merupakan petani yang menggarap lahan seluas 550 m2 dengan tiga komoditas utama, yang meliputi padi (Oryza sativa L.), jagung (Zea mays L.), dan kacang kedelai (Glycine max L.).
Tanaman yang ditanam adalah padi, jagung, dan kacang kedelai dimana merupakan golongan tanaman pangan. Ketiga tanaman ini memiliki luasan lahan yang berbeda-beda. Mulai dari yang paling luas yaitu lahan padi, kemudian jagung, dan yang terakhir adalah kacang kedelai. Kacang kedelai merupakan komoditas cadangan, terkadang ditanam atau terkadang pula digantikan dengan tanaman lain seperti kacang tanah (Arachis hypogaea L.).
Berdasarkan wawancara kondisi tanah di lahan garapan Bapak Hadi Markom memiliki tingkat kesuburan yang baik. Hal tersebut bisa dikarenakan letak sawah berada di kaki gunung merapi. Tanah subur di Indonesia merupakan tanah yang berada di lingkungan gunung berapi (Sukarman & Dariah, 2014). Oleh karena tanah yang sudah memiliki kesuburan yang baik tersebut, beliau hanya menggunakan satu macam pupuk saja yaitu pupuk urea. Pengaplikasian pupuk urea ini hanya dengan cara disebar disekitar tanaman. Pengaplikasian pupuk urea biasanya dilakukan secara dua kali, yaitu pada umur 15 hari dan umur 45 hari. Dosis yang diberikan sekitar 2 kuintal per hektar. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikatakan oleh Siallagan et al. (2014), bahwa dosis pemumpukan urea pada padi yang dianjurkan adalah sebanyak 250kg/ha.
Pupuk urea merupakan pupuk yang memilki kandungan unsur Nitrogen sebesar 45%. Pupuk urea memiliki peran dalam pembentukan dan pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman yang meliputi pembentukan klorofil, membentuk lemak serta protein, dan mampu mempercepat pertumbuhan daun, batang serta akar (Marsono, 2005 cit. Saputri et al., 2018). Pupuk urea ini memiliki kelebihan pada penggunaanya dapat disesuaikan dengan kebutuhan karena hanya mengandung N saja, sedangkan kelemahannya adalah mampu menurunkan pH tanah (Parnata, 2010 cit. Saputri et al., 2018). Selain itu untuk memenuhi kebutuhan N pada tanaman, penggunaan urea ini efektif karena cepat bereaksi dalam larutan tanah, mudah didapat di pasaran serta harganya relatif murah (Suriatna, 1992 cit. Sitorus et al., 2014).
Pustaka:
Saputri, L., dan E.D. Hastuti, dan R. Budihastuti. 2018. Respon pemberian pupuk urea dan pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan kandungan minyak atsiri tanaman jahe merah (Zingiber officinale L. Rosc var. Rubrum). Jurnal Biologi. 7: 1-7.
Siallagan, J.O., D. Chalil, dan M. Jufri. 2014. Analisis efisiensi penggunaan pupuk bersubsidi pada tanaman padi sawah. Journal On Social Economic Of Agriculture and Agribusiness. 2: 1-10.
Sitorus, U.K.P., B. Siagian, dan N. Rahmawati. 2014. Respons pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.) terhadap pemberian abu boiler dan pupuk urea pada media pembibitan. Jurnal Online Agroekoteknologi. 2: 1021-1029.
Sukarman, dan A. Dariah. 2014. Tanah Andosol di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
#19/439261/PN/15923_Ayu Wulandari_A2#

Tidak ada komentar:
Posting Komentar