Uji kesuburan tanah dilakukan secara mandiri di Dusun Suyudan, Desa Kiringan, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali. Uji kesuburan tanah dilakukan pada hari Selasa, 22 September 2020. Uji kesuburan tanah dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti uji fisika tanah, uji kesuburan dengan menanam tanaman dengan beberapa perlakuan, dan juga dapat dilakukan dengan wawancara petani di sekitar. Pada acara pertama tentang uji kesuburan tanah ini saya memilih untuk melakukan uji fisika tanah. Uji fisika tanah dilakukan untuk mengetahui struktur, tekstur, konsistensi, dan juga warna tanah.
Alat dan bahan yang diperlukan meliputi tanah yang akan diuji, air, cangkul, cetok, soil colour munsell, dan alat tulis.
Cara kerja:
1. Profil tanah dibuat berukuran 30cm×30cm×30cm.
2. Agregat tanah diambil untuk diamati struktur tanahnya.
3. Agregat tanah diuji konsistensinya dengan cara ditekan menggunakan ibu jari dan telunjuk, apabila belum hancur maka uji konsistesi kering ini dapat dilakukan dengan cara ditekan menggunakan ibu jari dan telapak tangan.
4. Konsistensi basah diuji dengan cara dibuat pasta dan diuji kelekatannya dengan cara ditekan diantara ibu jari dan telunjuk, untuk plastisitasnya dengan cara dibuat pita.
5. Tekstur tanah diuji dengan cara tanah dibuat adonan dan dibentuk bola, kemudian dibentuk pita dan seterusnya sesuai petunjuk pada buku praktikum.
6. Warna tanah diuji dengan soil colour munssel yang dapat didownload di google dalam bentuk pdf, kemudian tanah yang ada dapat disesuaikan dengan warna yang ada di buku tersebut.
7. Hasil yang didapatkan dicatat.
Uji fisika tanah yang dilakukan di pekarangan rumah yang biasanya digunakan untuk menanam singkong. Pada uji struktur tanah mendapatkan hasil berupa granular. Tanah di daerah Boyolali kemungkinan berjenis andisol karena letaknya yang berada di kaki Gunung Merapi tepatnya sebelah timur. Hasil tersebut sama dengan penelitian yang dilakukan Djaenudin (2004), bahwa tanah andisol memiliki struktur tanah yang berbutir atau granular. Selanjutnya hasil pengamatan konsistensi tanah didapatkan hasil pada kondisi lembab berupa lekat dan agak plastis. Pada kondisi kering, konsistensi tanah cenderung agak keras. Untuk uji tekstur tanah didapatkan tekstur geluh. Geluh merupakan tekstur tanah yang memiliki fraksi-fraksi tanah seimbang. Menurut Margolang et al. (2015), tekstur tanah yang paling ideal adalah tekstur tanah yang memiliki fraksi komposisi yang seimbang. Selajutnya pada pengujian warna tanah didapatkan hasil 7.5 YR 6/4, light yellowish brown. Pada hasil warna yang didapatkan warna tanah cenderung terang. Tanah yang subur biasanya berwarna gelap karena memiliki banyak kandungan bahan organik.
Namun indikator subur tidak dapat dinilai melalui uji kualitatif saja, banyak indikator lain yang mempengaruhi kesuburan. Berdasarkan pengujian fisika tanah dapat disimpulkan bahwa tanah yang saya amati dapat dikatakan subur karena memilki struktur, tekstur, serta konsistensi yang menggambarkan bahwa tanah cenderung gembur yang artinya adalah tanah tergolong subur dan memiliki aerasi serta draenase yang baik. Selain itu letak tanah yang diuji merupakan tanah di sekitar Gunung Merapi, yang mana tanah subur di Indonesia merupakan tanah yang berada di lingkungan gunung berapi (Sukarman & Dariah, 2014).
Pustaka:
Djaenudin, D. 2004. Beberapa sifat spesifik andisol untuk pembeda klasifikasi pada tingkat seri: studi kasus di daerah Cikajang dan Cikole, Jawa Barat. Jurnal Tanah dan Lingkungan. 6: 14-21.
Margolang, R.D., Jamilah, dan M. Sembiring. 2015. Karakteristik beberapa sifat fisik, kimia, dan biologi tanah pada sistem pertanian organik. Jurnal Online Agroekoteaknologi. 3: 717-723.
Sukarman, dan A. Dariah. 2014. Tanah Andosol di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
#19/439261/PN/15923_Ayu Wulandari_A2#


Tidak ada komentar:
Posting Komentar